Karangan fiksi: False Belief

 



Hari ini aku menjalani segala aktivitasku dengan rasa kesal. Sarapanku pagi ini rasanya begitu hambar meskipun garam yang kutambahkan ke dalam telur ceplokku sudah memenuhi sendok teh kecil itu. Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran orang lain, hari masih pagi dan aku pun baru membuka mata ketika kugulirkan layar ponselku di media sosial dan melihat postingan penuh romansa itu. Aku sangat kesal karena aku jadi teringat bahwa namamu belum muncul di notifikasi ponselku sejak kemarin. Atau dua hari yang lalu? Aku kira mungkin kamu sedang berada di dalam perjalananmu membelah hutan dan rindangnya pohon-pohon di sana pasti menghalangi sinyal untuk masuk sehingga kamu kesulitan untuk beraktivitas daring. Ini memang bukan pertama kalinya, tapi ini sudah terjadi berulang kali, dan berulang kali juga aku memaafkanmu. Kupikir selalu ada alasan untuk terjadinya suatu peristiwa, dan kurasa itu juga terjadi padamu. Aku tak akan banyak protes dan kesal seandainya namamu sesegera mungkin muncul saat ini. Aku sangat yakin kamu akan muncul dengan senyumanmu yang menyiratkan permintaan maaf itu. Aku selalu suka melihat kamu tersenyum karena aku bisa melihat keceriaan dan ketenangan yang kamu sampaikan lewat senyumanmu. Ah, kamu pasti sibuk sekali, begitu pikirku. Dengan pikiran itu, aku akhirnya bisa bangkit dari tempat tidurku dan melanjutkan hari. Ketika hari sudah siang dan aku masih belum melihat namamu, kekesalanku kembali. Tapi, mungkin itu juga pengaruh cuaca yang begitu ampun panasnya. Aku butuh air es saat ini juga. Jika kamu ada bersamaku, pasti kamu sudah inisiatif untuk menyediakan minuman segar berperisa untuk kita berdua, bahkan sebelum aku sempat memikirkannya. Kamu selalu cekatan untuk hal-hal seperti ini. Aksimu lebih cepat dibandingkan ucapanmu. Orang-orang menyebutnya sebagai act of service. Tapi, aku lebih suka menyebutmu sebagai pahlawan, karena kamu selalu bisa membantuku meskipun aku telah bersikeras akan melakukannya sendiri. Ya, memang kesulitan pada akhirnya. Karena itulah kamu selalu jadi pahlawan untukku. Ah, sungguh, aku sudah tidak bisa bersabar. Hari sudah malam dan kamu masih belum muncul. Apakah kamu baik-baik saja? Di saat panik seperti ini, aku jadi teringat bagaimana kamu menjadi orang yang begitu 180 derajat terbalik denganku. Aku selalu penasaran bagaimana kamu bisa begitu tenang bahkan pada saat-saat yang mengkhawatirkan hingga kurasa kamu perlu membuat kelas yang menjelaskan tentang kesabaran dan aku akan mendaftar menjadi siswa pertama. Begitu banyak bagian dari dirimu yang membuatku berpikir bahwa kamu mungkin adalah kepingan puzzle yang melengkapi bagianku.

Oh, yang kutunggu-tunggu akhirnya muncul juga! Tanpa butuh waktu lama, kuketuk namamu. Ah, syukurlah kamu terlihat baik-baik saja. Bagaimana aku bisa tahu? Seperti biasa, dari senyumanmu. Kamu pasti bahagia dikelilingi teman-temanmu. Akhirnya, malam ini aku bisa tidur dengan tenang. Sebelum tidur akan kupanjatkan doa kepada Tuhan, kiranya bisakah kamu benar-benar menjadi bagian puzzle yang kucari dan kuidamkan selama ini? Aku sudah terlalu lama menunggu, bagaimana bila aku tiba-tiba berhenti? Maka kupejamkan mataku dan berharap kamu muncul di dalam mimpiku untuk melarangku berhenti menunggumu.

Komentar

Postingan Populer