DIALOG

 

Sejak asap kopi mengepul hingga kini hampir tak terlihat lagi, pria-pria itu masih berada di tempatnya masing-masing, duduk melingkar dengan kopi dan sepiring gorengan juga setoples kacang sebagai pusatnya. Dengan dress code sarung diselempangkan, tak ada yang tahu juga bagaimana mereka bisa satu pemikiran untuk masalah sarung ini, mereka saling bertukar cerita bersama dengan suara jangkrik dan katak yang aktif di malam hari, seolah-olah berlomba siapa pemilik cerita terbaik. Mulai dari kabar bola, infrastruktur, harga sembako di pasar, hingga pemilihan ketua RW menjadi bahasan mereka malam itu.

Sampean tahu tidak, Pak?” seorang pria yang kelihatannya berada di awal umur 30 tahunnya mengawali topik baru sambil mengunyah kacang yang baru saja ia lemparkan kulitnya.

“Enggak, tuh,” kali ini seseorang dengan sarungnya yang ia jadikan bantal menyahuti, “Eh aku tak tidur dulu sebentar, nanti kalo sudah waktunya keliling bangunin ya!”

“Lah, Pak. Kalau mau tidur ya mending di rumah aja, ngapain ikut ke pos?”

“Halah, wes to, mending kamu lanjutin tadi mau ngomong apa, aku tak tidur dulu pokok nanti bangunin.”

Iyo, Ndri. Lanjutin yang tadi,” Bapak-bapak dengan kacamata yang sejak tadi bersandar di pojok kini bersuara setelah menyeruput kopinya.

“Itu loh, ketua RW kita,"

"Kenapa dia?"

"Kemarin dia habis ada masalah sama orang baru itu, katanya baru pindah tapi kok enggak izin dulu?"

"Oh aku juga denger itu, katanya dia marah-marah gitu, padahal katanya udah diurus," kini berganti Pak Samsul yang duduk di depan Andri yang menyahut.

"Wah terus piye?"

"Ya, enggak piye-piye, kan udah diurus?" Andri menjawab dengan santai lalu menyantap gorengan. "Lagian ya, itu orang baru juga pindahnya ndadak katanya."

"Halah, kamu tau dari mana, kan kamu enggak ikutan pindahan." Pak Bejo bangun dari tidurnya.

"Loh, Pak, katanya mau tidur?" Tanya Pak Samsul.

"Enggak bisa tidur aku, gara-gara suaranya Andri ini."

"Pak, Pak, ya suruh siapa tidur di sini. Tidur di rumah aja biar enggak denger suara saya!"

"Gitu aja marah kamu," Jawab Pak Bejo cuek sambil menyeruput kopinya yang masih agak penuh.

Masing-masing kembali sibuk pada camilan dan kopi di hadapannya, sampai Andri kembali bersuara.

"Dengar-dengar Pak Tino mau jadi ketua RW ya?"

"Kamu kata siapa, Ndri?" Sambil mencopot kacamatanya, Pak Rudi menyahuti cerita Andri.

"Wah ada deh! Sumber terpercaya!"

"Dari istrimu to?" Pak Bejo melirik Andri dengan jahil. "Enggak nyangka aku, Ndri. Kamu rajin juga ya bergosip."

"Halah, kayak sampean enggak aja." Pak Bejo tertawa.

"Kok bisa itu tiba-tiba ada kabar gitu? Bisa aja kan nanti yang jadi Pak RW tetep orangnya."

"Gini, Pak Samsul. Bentar, aku mau ambil autan dulu, banyak nyamuknya ini," Andri buru-buru lari menuju rumahnya yang tidak jauh dari pos ronda itu. Rumah keempat bapak-bapak itu memang tidak jauh, cenderung berdekatan. Pos ronda tempat berkumpul mereka berada tepat di tengah-tengah, atau bisa dikatakan, pos ronda yang menyatukan beberapa penghuni rumah di dekatnya itu.

"Lucu juga Andri itu," Pak Bejo berkomentar sesaat setelah Andri meninggalkan pos ronda.

"Adaa aja berita yang dibawa!" Pak Samsul menyetujui. Sementara Pak Rudi ikut mengangguk.

"Rud, kemarin kamu habis nanem buah naga itu beli bibit di mana?" Pak Bejo sebagai tertua sudah lumrah memanggil yang lain hanya dengan namanya, tanpa disertai embel-embel "Pak".

"Oh itu saya dikasih saudara, Pak! Kalau Pak Bejo mau nanem juga coba nanti saya tanyakan ke saudara saya ya."

"Saudara sampean jualan?" Pak Samsul ikut berkomentar.

"Iya, jual buah naganya. Kalau bibitnya enggak tau, makanya coba nanti saya tanyakan,"

"Nah, ini Autan hasil ngubek-ubek rumah tadi, ada yang mau pakai juga enggak?" Andri kembali sambil membawa 3 bungkus lotion yang katanya bisa menangkal serangan nyamuk itu.

"Enggak wes, aku kan kebal." Jawab Pak Bejo. Kedua bapak yang lain menunjukkan gestur menolak melalui tangannya.

"Ya sudah, ini tak taruh di sini, kalau kekebalannya sudah hilang pakai aja." Jawaban Andri membuat yang lain tertawa.

"Dilanjut enggak?"

"Apanya? Kekebalannya?"

"Cerita yang tadi," ketiganya mengangguk menyetujui Andri.

"Gini, Pak. Berdasarkan sumber terpercaya saya. Katanya Pak Tino menunjukkan gejala-gejala mau jadi RW,"

"Gejala-gejala opo to," Pak Bejo menimpali.

"Akhir-akhir ini ya, Pak Tino jadi berubah gitu kelakuannya"

"Berubah jadi power rangers?" Kembali Pak Bejo menyahuti cerita Andri dan mendapat tatapan jengkel dari si pembawa cerita.

"Pak, serius lah, Pak. Gini loh, Pak Tino akhir-akhir ini jadi enggak kayak biasanya,"

"Jadi luar biasa?" Sontak tawa meledak dari Pak Bejo setelah menyelesaikan omongannya sendiri.

"Sakkarepe wae lah, Pak."

"Loh, Pak, jadi ngambek Andrinya itu," ucap Pak Rudi menimpali. "Lanjutin dulu coba sampai selesai."

"Pak Tino akhir-akhir ini sering bagi-bagi makanan ke tetangga sekitarnya, tetangganya kan Pak RT. Terus ya, dia ikut benerin rumahnya Bik Tiyem itu tau kan yang kebakaran beberapa hari lalu? Padahal biasanya kan dia enggak pernah ikut-ikutan. Kelihatan batang hidungnya saja tidak, kok. Aneh, kan." Seusai menyelesaikan ceritanya, Andri menandaskan kopinya yang tinggal sedikit.

"Gejala-gejala daftar jadi RW-nya yang mana?" Tanya Pak Samsul.

"Ya... yang itu, yang baik ke tetangganya, Pak RT." Jelas Andri ragu.

"Orang berbuat baik kok aneh. Harusnya perbuatan kayak gitu ya ditiru, bukan malah dijadikan bahan gosip. Tiru itu Ndri, besok anterin aku kolak durianmu itu."

"Eh? Kok Pak Bejo tahu saya masak kolak durian?"

"Loh jadi beneran to hahahahhaahah," Pak Bejo tertawa, Andri malu, sedangkan dua yang lain hanya tersenyum sambil mengunyah kacang.

"Lain kali, jangan berprasangka macam-macam gitu lah sama orang. Iya kalau bener kayak Pak Bejo, kalau salah? Kan kamu jadinya menyebar berita bohong." Pak Rudi menyampaikan pendapatnya.

"Setauku Pak Tino itu memang kerja di luar kota dan pulangnya Maghrib gitu. Saya pernah ketemu waktu di kereta mau jenguk neneknya anak-anak bulan lalu." Kini giliran Pak Samsul yang bercerita.

"Oh iya? Kok saya enggak tahu ya,"

"Ya ngapain ngasih tahu kamu, Ndri, Ndri."

"Jadi, beritanya bener atau salah?"

"Ya enggak tahu, liat aja besok siapa yang jadi ketua RW-nya." Jawab Pak Bejo.

"Tapi kalo misal jadi ya enggak apa-apa sih, bagus juga malah menggantikan RW yang emosian itu,"

"Hayo mulai lagi!" Semuanya tersenyum termasuk Andri yang malu.

"Lihat, pos ronda bisa jadi meja pengadilan, meja makan, meja tidur, serbaguna kan?"

 "Asal jangan dijadikan meja judi aja ya, Pak." Tawa memenuhi pos ronda di tengah perkampungan yang sepi.

"Sudah, ayo waktunya keliling, cepet keliling biar bisa cepet tidur, enggak enak tadi tidurku digangguin Andri," Ucap Pak Bejo sambil bangkit dari duduknya dan membuang kulit kacang yang ia kumpulkan sembari mendengarkan cerita Andri tadi diikuti yang lainnya.

"Ndri, ini Autanmu," Pak Rudi yang keluar dari pos ronda terakhir membersihkan sisa-sisa makanan yang tercecer, memastikan keadaan pos ronda benar-benar rapi kembali. Andri menerima Autan yang diulurkan kepadanya dan memasukkannya dalam saku celananya.

"Sarung Pak Samsul,"

"Oh iya, sini."

"Loh sandalku mana ini?" Pak Rudi kebingungan. Pak Samsul ikut mencari-cari sandal.

"Oh di bawah ini, Pak."

"Udah ketemu belum? Ayo cepetan, ngantuk berat aku, tak tinggal loh ya." Keluh Pak Bejo mengawali langkah.

"Sik, Pak," dengan cepat Pak Rudi memakai sandalnya. "Wis, ayo!"

Malam semakin larut dan mereka mulai menjalankan tugasnya.



[digunakan sebagai tugas mata kuliah multikulturalisme]

Komentar

Postingan Populer