Karangan fiksi: Curhat

Di mana ya pertama kali aku melihatnya? Sebentar, aku coba ingat-ingat dulu. Hm, sepertinya itu di depan lift gedung fakultasku. Aku hendak naik lift untuk pergi ke kelasku, tapi terhalang oleh dia yang hendak keluar dari lift. Kamu tahu kisah mainstream saat hendak lewat kanan tapi orang di depanmu juga bergerak ke kanan? Ya, itu yang terjadi padaku dan dia. Kita jadi tertawa canggung dan akhirnya dia mempersilakanku untuk lewat dan naik lift sebelum tertutup kembali. Dari dalam lift yang hampir tertutup itu aku menamatkan pandanganku pada dia yang berjalan makin jauh. Punggung yang bagus, pikirku. Wah, kacau. 

Kupikir bertemu dengannya hanyalah salah satu dari sekian banyaknya pertemuanku dengan orang asing, tapi ternyata kita bertemu lagi di sebuah kesempatan yang membuat kita bisa tahu lebih banyak satu sama lain. Dari situ baru kutahu kalau dia dari fakultas yang letaknya jauh dari fakultasku. Lalu, kenapa ya waktu itu dia ada di fakultasku? Rasa penasaranku itu kemudian yang mengawali obrolan ringan dengannya. Berkenalan dengan orang baru memang menyenangkan, lebih menyenangkan lagi ketika tahu bahwa orang itu sangat asik diajak mengobrol. Jadi ingin mengajak ngobrol terus-menerus. Eh? Lupakan saja. 

Tunggu, biar aku lihat kalender, satu, dua, hm berarti ini sudah tiga bulan aku mengenalnya. Kami masih mengobrol, ya obrolan-obrolan ringan saja, layaknya teman akrab. Pernah suatu hari, entah mengapa aku tertangkap oleh temanku sedang tersenyum lebar ketika membaca pesan darinya. Temanku mengira aku sedang jatuh cinta. Ya Tuhan, yang benar saja! Tidak, ah. Cinta itu merepotkan, aku tidak mau merasakannya. 

Eh, tunggu, ada pesan masuk. Oh, dari dia. Aku baca pesan dari dia dulu, ya. HAHAHAHAHA. Humornya sungguh jelek, tapi aku jadi tertawa terbahak-bahak. Sebentar ya, biar aku balas pesannya dulu. Kenapa? Kalian mau bilang juga kalau aku suka dia? Tidak, kok. Aku dan dia hanya berteman saja. Kalau lebih dari itu, terima kasih. Aku tidak akan tertarik. 

Kemarin aku baca kisah seseorang di Twitter, katanya ia diberi harapan palsu oleh seseorang dari hubungan yang semula ia jalani dengan bahagia. Sungguh di luar dugaan ya? Begitulah, aku tidak suka dengan hal-hal di luar dugaan.

 Oh, liat, kini dia mengirim pesan lagi. Kenapa sih dia ini tingkah lakunya sungguh tidak terduga? Ada-ada saja yang dia lakukan. Tunggu, ya. Biar aku balas dulu pesannya. 

Eh, atau kalian kembali lagi saja kapan-kapan? Sepertinya cerita konyol darinya masih panjang. Daripada kalian menunggu terlalu lama, kan. Aku balas pesannya dulu, ya. 

Ha? Pacaran dengannya? Tidak, tidak. Aku tidak mau pacaran. Aku malas galau kalau nanti patah hati. Lagian aku juga tidak suka dia, kok. Sudah, ya? Oke, sampai jumpa.

 HAHAHAHAHAH dia bertindak konyol lagi. 

Ilustrasi


Komentar