OVERTHINKING
Pertemanan selalu menjadi hal yang paling emosional untuk saya, setidaknya itu yang saya sadari pada tahun 2022 ini. Tahun ini, saya mengungkap banyak hal yang selama ini baru berupa spekulasi, tetapi ternyata Kunto Aji salah, semua yang saya takutkan terjadi. Ternyata, hubungan yang selama ini saya pikirkan dan percayai hanya terjadi di pikiran saya. Akan tetapi, bagaimanapun itu terjadi biarlah terjadi, berkat itu justru banyak hal-hal baru yang saya dapatkan.
Hari ini, saya menangis seharian. Menjadi seseorang yang kerap overthinking sungguh merepotkan. Peristiwa yang sebenarnya terjadi adalah teman-teman kos saya kembali ke rumahnya masing-masing, tinggal saya yang masih menunggu jadwal kereta. Meskipun sebenarnya tidak sungguh sendirian, masih banyak penghuni lain di kos ini, tapi saya sungguh merasa kesepian. Ditambah, pikiran saya jadi jauh melanglang. Mungkin efek dua tahun terpisah dengan teman-teman, tahun ini ketika akhirnya kembali bertemu dan banyak menghabiskan waktu bersama, saya jadi tidak ingin melepaskan momen ini. Rasanya seperti ingin mengambil kembali apa yang tercuri pada tahun 2020 dan 2021. Padahal, ya, saya tidak bisa menghindari fakta bahwa kini kami bertemu sebenarnya hanya untuk sementara sebelum kemudian kembali berpisah untuk mengejar mimpi kami masing-masing dan untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar.
Saat mengetahui teman-teman saya kembali ke rumahnya, saya berpikir, “ini masih liburan semester, semester depan kami memang masih bertemu, tapi kemudian? Ah, tahun depan kami akan benar-benar berpisah, life after college. Apa saya bisa menghadapi itu semua?” Membayangkan bahwa kami akan sibuk dengan urusan kami masing-masing membuat saya agak sedih, artinya tidak akan bisa menghabiskan banyak waktu bersama lagi, tapi saya juga merasa senang karena setidaknya saya masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan mereka semua pada saat ini, bisa mengenal dan mengingat mereka sebagai sosok yang turut berperan dalam cerita saya.
Lebih jauh saya berpikir, life after college, semua orang melanjutkan jalannya masing-masing dengan orang-orang baru (bagi saya) di sekitarnya. Lalu, bagaimana dengan saya? Bagaimana jika saya tidak bisa menjalaninya sendirian? Bagaimana jika saya rindu dan butuh mereka yang kini sibuk bersama sosok di samping mereka? Apakah saya boleh mengganggu sebentar, atau sebaiknya tidak? Bagaimana menikmati hidup saya sendirian? Entahlah, itu kan nanti, biar saja apa yang terjadi nanti ya diurus nanti. Sebaiknya saat ini saya lebih menikmati dan mensyukuri apa yang sedang saya hadapi.
Tapi, ada satu yang saya harapkan, semoga “nanti” kita semua masih bisa saling mengingat.

Komentar
Posting Komentar