Manusia Hebat
Suatu hari ketika saya sedang makan sambil menonton televisi, muncul tayangan iklan kecap yang mereknya cukup terkenal. Iklan yang biasanya hanya saya anggap angin lalu tiba-tiba jadi terlihat dan terdengar menarik. Dalam iklan tersebut, terdapat seorang ibu dan anak laki-lakinya hendak memasak sebuah masakan yang sangat umum dikenal masyarakat, yaitu nasi goreng. Akan tetapi, kali ini mereka ingin memasaknya menggunakan resep sang nenek. Apa yang menarik perhatian saya adalah ketika mereka mengatakan hendak memasak “nasi goreng nenek”. Loh, bukankah itu hal yang biasa saja? Iya, seharusnya. Namun, saya tiba-tiba jadi teringat dengan nasi goreng kambing saat mendengarnya. Nasi goreng kambing berarti nasi goreng dengan daging kambing, jika menggunakan analogi yang sama bukankah nasi goreng nenek seharusnya berarti nasi goreng dengan daging nenek? Wah, iklan itu lalu berubah seram dan menjadi trailer film kanibal. Akan tetapi, dengan hebatnya kita semua tahu bahwa bukan itu yang dimaksud, tetapi maksudnya adalah nasi goreng dengan resep dari nenek.
Tanpa kita sadari, ada banyak sekali kalimat yang sebenarnya strukturnya tidak tersusun secara lengkap dalam obrolan sehari-hari dan diucapkan oleh banyak orang. Meskipun begitu, kita dapat memahaminya dengan baik. Pada contoh yang lain, misalnya, ketika kita pergi ke warung hendak membeli sabun dan berkata pada penjualnya, “Buk, sabun.” Penjual dapat memahami maksud kita bahwa kita hendak membeli sabun dan bukannya menawarkan atau sekadar menunjuk sabun, lalu dengan segera mengambilkan sabun untuk kita. Hal itu berhubungan dengan sesuatu yang disebut sebagai makna. Satu kalimat dapat bermakna banyak, tetapi dengan memahami konteks dari peristiwa yang terjadi maka dapat diketahui makna yang sesuai.
Pada contoh nasi goreng nenek sebelumnya, kita langsung berpikir bahwa yang dimaksud adalah nasi goreng dengan resep dari nenek tanpa berpikir maksud lain. Hal itu karena jika kita menggunakan analogi nasi goreng kambing terdengar tidak masuk akal dan tidak dapat diterima. Di sisi lain, kita juga jadi mengingat bahwa masakan nenek selalu terasa enak sehingga kita biasanya ingin mengetahui resep yang digunakannya. Pada contoh kasus pergi ke warung dan berkata, "Bu, sabun." akan berbeda maksud yang ditangkap oleh penjual apabila konteks peristiwa yang sedang dialaminya adalah dihampiri oleh karyawan pemasok barang, maka tuturan tersebut akan dipahami penjual sebagai kalimat tawaran apakah ia hendak menambah stok sabun atau tidak.
Kalimat-kalimat tidak lengkap tidak hanya diucapkan oleh orang-orang dewasa, tetapi juga oleh anak-anak kecil. Mereka terbiasa mendengar orang-orang di sekitarnya mengucapkan kalimat-kalimat dengan susunan serupa sehingga saat memproduksi ujaran mereka meniru apa yang telah mereka pelajari dari orang lain. Misalnya, saat seorang anak kecil berkata pada ayahnya, “Mau mandi” sambil berusaha melepas pakaiannya, maka dapat dipahami bahwa yang mau atau ingin mandi adalah dirinya, bukan orang lain meskipun subjeknya tidak diucapkan.
Pelesapan kata yang membuat kalimat tidak lengkap biasanya dapat berupa pelepasan subjek seperti contoh dari anak kecil sebelumnya ataupun berupa pronomina penjelas. Akan tetapi, dalam praktik sehari-hari sebenarnya kata apa saja dapat dilesapkan. Kata-kata biasanya dilesapkan dengan alasan keefektivitasannya. Pada contoh kalimat, “Sampai ketemu Juli nanti!” kita dapat mengerti bahwa maksudnya sampai bertemu di bulan Juli, meskipun terdapat kemungkinan bahwa Juli yang dimaksud adalah nama orang, tetapi kita telah memiliki pengetahuan umum bersama bahwa Juli adalah nama salah satu bulan. Konteks yang digunakan dalam kalimat juga memengaruhi, ketika kalimat tersebut diucapkan ketika seseorang berpisah maka dapat diperkirakan bertemu di bulan Juli merupakan penjelasan yang paling sesuai. Kata di dan bulan dilesapkan dengan alasan keefektivitasan agar kalimat tidak menjadi terlalu panjang. Selama konteks saling dimengerti oleh penyampai dan penerima pesan maka pelesapan dianggap tidak mengganggu.
Mengapa hal ini saya anggap sebagai kehebatan manusia adalah karena hal-hal mengenai pelesapan kata tidak pernah dipelajari secara khusus penggunaannya sebagaimana kita mempelajari ilmu bahasa, matematika, atau ilmu sosial saat di bangku sekolah. Begitu juga dengan memahami maksud dari kalimat yang ambigu atau dapat berarti lebih dari satu maksud, kita dapat memahaminya hanya dengan melihat konteks peristiwa tanpa perlu belajar dari buku berteori. Bahkan, meskipun kita mempelajarinya sejak kecil dari orang tua ataupun orang lain yang berada di sekitar kita, kita tidak benar-benar diajari tapi kita menyerap dan menirunya secara alami. Sungguh hebat!


Komentar
Posting Komentar