Dari Webinar Aku Belajar
Tulisan ini mungkin akan sangat panjang, tapi semoga teman-teman betah untuk membaca sampai akhir :D
Tiga hari sebelum semester baru dimulai, aku memilih untuk mengisinya dengan mengikuti rangkaian workshop dari @petatuju (sebuah akun di Instagram yang menjadi wadah untuk menyampaikan wawasan seputar pengembangan diri). Topik-topik yang dibahas sangat menarik, hal itulah yang menjadi alasanku untuk mendaftarkan diri di acara ini. Berturut-turut topik yang dibicarakan adalah How to Break Bad Habits, Personal Branding Track, dan Menata Mimpi Melalui Journaling. Pembicara-pembicaranya pun KEREN BANGET. Seneng!
Lalu, dari mengikuti tiga workshop tersebut, sesuai dengan judul tulisan ini, (meskipun beberapa kali zone out dan kehilangan jaringan internet) aku belajar beberapa hal yang bersangkutan dengan hidup. Hal-hal yang kutuliskan di sini adalah rangkuman dari ilmu yang kudapatkan dari workshop serta dari pendapatku. Sebagai catatan, semua pendapatku tentang pandangan hidup mungkin akan berbeda dengan teman-teman.
Pertama, untuk segala hal dalam kehidupan, diri kita sendirilah yang menjadi kuncinya. Entah ingin berubah, memulai hal baru, atau apa pun itu semuanya dimulai oleh diri sendiri. Di tiga workshop itu, aku sebagai peserta mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang apabila ditarik intinya akan sama, yaitu “Apa yang kamu inginkan?”. Pada saat itu aku langsung tersadar kalau ternyata aku belum memahami diriku sendiri karena aku kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang hanya terdiri dari sebaris kalimat itu. Sebaris kalimat yang membutuhkan perenungan dengan waktu lebih lama buatku. Sepertinya akan lebih mudah untuk memikirkan langkah selanjutnya kalau pertanyaan itu dapat kujawab.
Kedua, hal ini sebenarnya telah lama kupikirkan. Terkadang ada saat-saat kita merasa bahwa hidup ini terasa sangat berantakan dan bikin pusing. Menurutku, pada saat-saat ini hal yang sebenarnya kita butuhkan adalah sort things out. Kemungkinan, banyaknya hal yang memenuhi pikiranlah yang membuat hidup kita terasa lebih ruwet. Dengan mengelola hal-hal tersebut dan menuliskannya dalam sebuah jurnal (atau pada apa pun lah), bisa membantu kita untuk berpikir lebih jelas dan mampu menemukan penyelesaian serta jalan keluar untuk setiap masalah yang kita hadapi. Dari sini kemudian aku berpikir bahwa journaling atau menulis jurnal adalah cara perenungan yang sesuai untukku.
Tentang journaling, hal-hal yang dituliskan dalam jurnal itu bisa beragam. Entah perasaan yang sedang kita rasakan pada kondisi-kondisi tertentu atau pertanyaan-pertanyaan seperti Apa yang kita inginkan dalam hidup? Apa yang ingin kita raih? Kita ingin menjadi orang yang seperti apa? Bagaimana kita ingin dikenal oleh orang lain? Atau kita juga bisa menuliskan kekurangan dan kelebihan diri kita. Jika merasa bingung untuk menuliskan kelebihan, mungkin bisa dengan menuliskan apa kemampuan yang sebenarnya ingin atau dapat kita usahakan untuk menjadi kelebihan kita. Semua terserah kebutuhan masing-masing, yang penting tulis aja dulu!
Ketiga, hal yang kubahas sebelumnya kemudian dapat juga diterapkan apabila kita ingin mengubah sebuah kebiasaan yang kita anggap buruk. Ini nih yang aku pelajari dari workshop. Kebiasaan yang membuat ritme hidup kita menjadi terganggu dan berpengaruh pada kesehatan mental perlu untuk diubah. Yang dapat kita lakukan adalah menuliskan 2S yaitu sebab dan solusi. Kebiasaan buruk lebih mudah untuk dibentuk karena memberikan kepuasan instan dan biasanya disebabkan oleh stres dan kebosanan yang menyebabkan kita membutuhkan penyaluran kebutuhan. Nah, kalau kita sudah mengetahui sebabnya, lebih mudah bagi kita untuk mencari solusi yang dapat dilakukan untuk mengganti kebiasaan kurang baik itu. Langkah berikutnya yang dapat dilakukan adalah membuat target yang S.M.AR.T (Spesific, Measurable, Achievable, Time Bound, Relevant). Membentuk kebiasaan baru memanglah tidak mudah dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, maka hal terpenting dalam membentuk kebiasaan baru adalah langkah yang dilakukan dengan konstan. ‘Baby steps are better than no steps at all’ langkah kecil lebih baik daripada tidak sama sekali.
Keempat, kita semua (mungkin) pernah merasa insecure ketika membuka Instagram. Banyak orang yang mempertontonkan kemewahan, kebahagiaan, atau hal-hal lain yang menunjukkan kehidupan yang mudah dan menyenangkan. Media sosial yang lebih mengedepankan aspek visual ini mudah sekali membuat insecure karena media sosial ini adalah tempat yang paling umum digunakan oleh orang-orang untuk self branding. Self Branding adalah keadaan bagaimana kita ingin dikenal oleh publik. Oleh karena itu, tentu kita berusaha untuk menampilkan persona atau topeng yang menunjukkan citra terbaik yang kita miliki. Pada dasarnya, manusia memiliki dua persona, yaitu yang ingin ditampilkan kepada orang lain dan yang hanya ditampilkan pada diri sendiri. Jadi, insecure karena melihat orang lain itu wajar, kok, karena pada saat itu kita sedang melihat citra terbaik yang berusaha ditampilkan oleh orang lain. Yang harus kita lakukan adalah mengupayakan agar insecure ini tidak menjadi penghambat dalam menjalani kehidupan. Bisa jadi orang lain pun memiliki kesulitan yang sama dengan kita, hanya saja tentu tidak akan ditampilkan dalam sosial media. Oh ya, dalam mengelola impresi diri untuk self branding kita enggak perlu jadi yang paling sempurna, because nobody's perfect, cukup menjadi pribadi yang ada apanya namun apa adanya #asekk
Kelima, memiliki goals dan dreams akan menjadi sebuah keuntungan yang super-duper karena goals can change your life dan dreams can inspire you and bring you motivation. Kembali menerapkan journaling atau menulis jurnal adalah cara yang dapat dilakukan untuk menata mimpi dan tujuan-tujuan hidup. Ketika kita menulis, otak kita menjadi lebih aktif karena ikut terlibat dan kita jadi lebih mudah mengingat. Menulis juga membantu kita untuk bisa beristirahat sejenak dari sibuknya kegiatan dengan merenung dan berpikir lebih dalam sebelum menuliskan sesuatu.
Itu saja beberapa hal yang dapat kubagikan, kalau teman-teman memiliki pendapat untuk didiskusikan silakan tulis di kolom komentar! Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisanku! Semoga sehat selalu :))
Judulnya memang enggak sesuai, harusnya workshop bukan webinar, tapi biarin aja memang pengen xD

Komentar
Posting Komentar