(ilustrasi; dokumen pribadi)
Pertama kali aku mengenalmu, kau mau tahu? Sejujurnya aku sangat membencimu. Aku kesal melihatmu dan kemampuan bersosialisasimu itu. Kamu mengajak orang tuaku berbicara layaknya sesama orang dewasa yang telah mengenal satu sama lain sekian lamanya. Aku benci itu karena bersosialisasi adalah kelemahan terbesarku. Kebencianku semakin bertambah ketika aku kemudian mulai kamu jadikan sasaranmu untuk beramah tamah selanjutnya. Kau tahu apa yang sebenarnya ingin aku ucapkan kepadamu saat itu? "Enyah". Tapi, aku tidak pernah berani untuk benar-benar mengucapkannya karena jelas aku tidak mau mendapatkan ceramah panjang dari orang tuaku. Aku sungguh heran dengan kemampuanmu untuk berbicara itu, kamu berbicara selayaknya orang paling berilmu dan paling berpengetahuan di dunia ini padahal aku yakin kalau juara kelas saja tidak kamu dapatkan. Oh, maaf kalau aku terlalu merendahkanmu tapi aku hanya berbicara tentang fakta.
Sesungguhnya mengenalmu adalah salah satu hal yang sangat melelahkan yang pernah aku alami. Bagaimana kamu bisa selalu berbicara dan tertawa dengan riangnya seperti itu? Sangat boros energi. Melelahkan sekali. Meskipun begitu, aku sebenarnya juga iri dengan fisikmu, umur kita tidak jauh berbeda. Kalau pada saat itu aku sedang mengalami pubertas, seharusnya kamu juga dong? Seharusnya aku juga menemukan jerawat di wajahmu! Tapi, apa yang aku temukan justru wajah yang sangat bersih, padahal kamu kan cowok! Iri. Iri sekali. Tapi, ah sudahlah, aku kira memang jerawat sepertinya juga punya kebebasan untuk memilih di mana ia akan bertumbuh.
Terkadang aku menyesal dan bersyukur di saat yang bersamaan ketika liburan tiba, aku senang karena akhirnya bisa bebas dari semua urusan sekolah yang membosankan itu dan akhirnya pergi mengunjungi saudaraku, tapi argh aku juga sebal karena itu berarti aku melihatmu lagi. Melihatmu banyak membantu keluargaku, dan aku. Aku masih ingat ketika kamu menawarkan tumpangan dengan ramah yang aku tolak mentah-mentah tapi akhirnya gagal juga karena sebenarnya aku ini boneka yang digerakkan oleh kekuasaan orang tuaku. Jadilah aku kemudian ikut denganmu dalam perjalanan menuju rumah saudaraku yang cukup jauh. Padahal aku sudah berencana untuk tidur-tiduran saja tapi kenapa kamu harus bilang pada ayahku akan mengantarku? Sebal. Oh, tapi kalau aku mengingat hal berikutnya kupikir kamu tidak begitu menyebalkan, sedikit. Sisanya kamu sangat menyebalkan. Waktu itu ponselku kehabisan baterai dan aku hanya bisa diam sambil menyenderkan tubuhku ke tembok dengan tatapan mata yang tidak begitu menikmati tontonan di layar tv. Kamu yang saat itu juga sedang bersantai di sana secara tiba-tiba mengulurkan perantimu agar bisa kupinjam, entah untuk apa pun itu aku bebas memakainya, katamu. Aku agak kikuk dengan sikapmu tapi tentu saja aku yang sangat sehati dengan gadget ini tidak mampu menolak tawaranmu. Aku akui kebaikanmu. Tapi tetap saja kamu terlihat menyebalkan dengan senyum lebarmu itu.
Entah ya, selama ini aku kira aku sebal dengan senyumanmu karena kamu tampak seperti orang konyol, tapi setelah aku pikir-pikir lagi aku sebal melihat senyumanmu karena kamu tampak indah sekali. Kok bisa sih ada senyuman semanis itu dan dibagikan dengan percuma sewaktu-waktu? Sungguh tidak terbayang olehku bahwa sejak peristiwa gadget itu aku mulai kehilangan rasa kesalku padamu dan tanpa sadar pada setiap saat liburanku aku langsung mencari-cari kehadiranmu dan bahagia ketika kamu keluar dari pintu rumahmu untuk menyambut keluargaku. Tentu saja tak lupa dengan senyum lebarmu itu. Aku mulai menantikan saat-saat liburan tiba karena hanya semangat dan antusias yang aku rasakan.
Waktu liburanku kemudian habis untuk bermain PlayStation milik omku bersamamu, ikut membantu bibiku memasak dan tiba-tiba kamu ikut membantu, atau berkeliling kompleks denganmu. Sebenarnya aku yakin bahwa aku melakukan hal-hal lebih banyak denganmu tapi aku tidak bisa mengingat dengan detail apa saja hal-hal itu, yang pasti kamu sangat suka jalan-jalan dengan motormu dan aku kemudian dengan semangat ikut dalam perjalananmu. Aku senang karena kamu pasti akan menunjukkan banyak pemandangan bagus, termasuk langit, di setiap perjalanan. Tapi, sekarang aku jadi sangat membencimu (lagi) karena kamu melanjutkan perjalananmu sendirian tanpa mengajakku. Aku telah kehilangan jejakmu.
So sad hiks:(
BalasHapussemoga menemukan jejak lain yang mengajakmu bersamanya di perjalanannya
BalasHapus